Kamis, 17 April 2014

Kumpulan Cerpen Persahabatan Terbaru

~ Kita Memang Bersaudara
Penulis :
Refanti Madani Hanifah
Hai namaku Yona, aku berumur 10 tahun, aku kelas 5. Hari ini aku ke sekolah dengan berjalan. Ya, karena memang rumahku dan sekolahku dekat.
*****
"Hai Yona." sapa sahabatku, Tia.
"Hai juga, Tia." aku berbalik sapa.

SKIP
Sesampainya di rumah, aku segera menelfon Tia untuk bermain bersama.
Aku selalu memakai cadar kemana-mana, jadi, yang tau wajahku hanya keluargaku dan aku saja.
"Hai, Yon. Mau main apa?" tanya Tia.
"Main apa saja deh." jawabku.
Kami bermain hingga waktunya pulang. Saat ingin pulang, cadarku terbuka sedikit ketika sedang bersalaman dengan ibu Tia.
"Ups, terbuka." ucapku.
"Hmmm Yona, wajahmu mirip dengan anakku." ucap ibu Tia.
"Apakah ia anakku yang hilang?" batin ibu Tia.
"
Sesampainya di rumah
"Bu, aku mau tanya, apakah aku anak ibu?" ucapku.
"Ibu ceritakan ya, dulu ibu menemukanmu saat kamu berumur 3 tahun di mall." ucap ibu.
"Lalu, ibu mengambilmu dan merawatmu hingga sekarang." ucap ibuku, tak terasa air menetes di pipi ibuku.
Aku berlari kembali menuju rumah Tia, aku memeluk Tia dan menangis.
"Tia, hiks kita bersaudara." ucapku.
Tia tersentak.
Itulah akhir perjalananku, setelah itu, ibu Tia menjadi ibuku. Dan akhirnya kami bahagia.
Add Facebooknya! Refanti Madani Hanifah

~  Persahabatan yang Tak Runtuh
Penulis :
Damar Nisa Nadira
Kuusap mataku entah untuk yang keberapa kalinya. Mungkin untuk yang keseratus kalinya. Hari ini aku sedih sekali. Baru kali ini aku menangis sebenar-benarnya. Endah menuduh aku mengkhianati persahabatan kami berempat. Aku tahu akulah yang pendiam, tak banyak bicara. Mereka akrab bertiga. Aku sepenuhnya tak dibutuhkan, pikirku.
Tadi pagi, Karin berkata, “Jangan sesekali mendekati Veron, dia jahat padaku !” aku tak begitu mempedulikannya. Sesama teman tak harus dibeda-bedakan !, sorakku dalam hati. Saat jam istirahat, aku makan sendirian. Dalam sekedip, aku menyadari bahwa Veron sudah duduk manis di sampingku membawa bekalnya.
“Hai Fiqah !” sapanya dengan ramah.
“Hai juga, Nica,” balasku. Veron membuka bekalnya. Ada dua buah apel, sesisir anggur, dan dua buah pisang.
“Menurutmu, apa mengingkari persahabatan itu menyedihkan ?” pertanyaan yang meluncur dari mulut Veron membuatku tersedak.
“Uhuk ! Uhuk !” kataku salah tingkah. Veron memberiku segelas air putih. Aku segera meminumnya.
“Segarnya... Oh iya, Nik, aku mau ke kelas dulu, ya ! Dadah !” aku segera mengemas bekalku dan segera meninggalkan Veron. Mungkin itu penyebabnya. Tapi aku sebal ! Masa, karena begitu saja, aku dianggap musuh ? Tidak adil !
Aku bergegas ke luar kamar. Ada Ibu yang sedang merajut boneka kelinci.
“Ibu, Ibu pernah tidak, menghianati persahabatan ?” tanyaku pada Ibu.
Sejenak Ibu berpikir.
“Seingat Ibu, tidak pernah. Mengapa ? Afiqah punya masalah ?” tanya Ibu.
Aku menjelaskan semua masalah yang kualami hari ini. Raut wajahku terlihat seperti putus asa. Memang, sudah beberapa kali aku menangis hari ini. Mataku juga terlihat sedikit bengkak. Ibu merespon ceritaku tanpa emosi.
“Kamu terlihat putus asa, Fiqah. Sebaiknya kamu istirahat, atau bermain dengan anak-anak yang lain. Siapa tahu bisa membantu menghilangkan rasa sedihmu itu,” nasihat Ibu.
“Tapi Afiqah merasa stress yang berat, Bu... Afiqah merasa hampa, seperti tak mau apa-apa,” bantahku. Ibu menyarankanku untuk bermain dengan anak-anak kecil. Meskipun terasa memalukan, tapi ku terima usulan itu.
Aku keluar sambil berusaha menyembunyikan emosiku saat ini. Aku berusaha senyum apabila ada orang yang lewat. Akhirnya sampai juga. Tempat bermain anak-anak kecil.
Aku berusaha beradaptasi dengan anak-anak itu. Aku bermain dengan ank-anak perempuan, bermain boneka yang terbuat dari kain. Aku merasa lebih tenang bermain dengan anak-anak itu. Hingga sore, kami bermain penjual dan pembeli. Seru sekali !
Suatu ketika, ada tiga orang perempuan, sebaya denganku, memanggilku dari jauh. Sontak aku mengikuti mereka, karena dari jauh, muka mereka terlihat samar-samar. Ternyata itu adalah mereka bertiga, Endah, Karin, dan Yuni. Sepertinya mereka sedang bersedih.
“Kalian ada apa ke sini ?” tanyaku kasar.
“Em... begini, kami bertiga, sebenarnya ingin minta maaf padamu, karena kami telah menuduhmu menghianati kami. Aku, Karin, tadi sempat blertanya pada Veron, kalian berdua berbicara apa. Ia menjelaskannya. Aku mengerti. Kami bertiga merasa bersalah padamu. Maafkan kami, Afiqah,” kata Karin lirih. Aku terdiam. Suasana hening. Tak ada yang berani berbicara.
“Hmm... kalian... tidak perlu meminta maaf, kan, cuma salah sangka. Aku tidak marah, kok...” aku menggandeng tangan Karin. Mata Karin sepertinya berbinar.
“Sungguh ?” Karin tak yakin. Aku mengangguk. Kami berempat merasakan kembali hangatnya persahabatan. Rasa marahku pada mereka juga, sudah sirna. Kami saling berjabat tangan dan berpelukan.
Sungguh hari yang tak terkira.
Hari itu penuh dengan segala suasana. Sedih dan senang tercampur aduk dalam satu hari. Apalagi waktu pesta piyama pada malam harinya di rumahku. Sungguh hari yang tak akan terlupakan !
Go Add Facebooknya! Best Lydia Rosetta

~ Sepucuk Surat Untuk Sahabat Yang Telah Berpisah.
Penulis :
Cantika Putri Romadhona
"Haii Mir" Sapaku kepada Mirza disertai senyumnya.
"Hai" Balas Mirza dengan nada cemberut.
"Loh kamu kenapa?" Tanyaku kepada mirza heran.
"Nggk papa kok!" Jawab Mirza.
Kelihatanya Mirza, merahasiakan sesuatu. Aku belum sempat mengetahuinya.
"Ya sudah, ayoo kita masuk kelas!" Kataku mengajak mirza.
Waktu pelajaran, mirza tetap lesu, sedih.
"Kmu kenapa sih mir?" Tanyaku.
"Jujur, sebenarnya aku mau pindah sekolah." Jawab Mirza sambil meneteskan air mata.
"Loh? berarti pindah rumahkan?" Tanya ku dengan sedih.
"I----y-----aaa!" Jwab mirza meneteskan air mata.
"Loh? kalau  km pindah, aku nggk punya sahabat donk!" Kataku meneteskan air mata. Aku takut kalau aku sudah tidak punya sahabat lagi.
"Rencananya besok pindahnya, aku sudah nggk skolah disni lagi!" Kata mirza menangis lagi.
"Loh?" Kataku nanngis
"Udah jangan dibahas" kata Mirza.
*****
"Anak-anak, waktunya pulang!" Kata Bu guru.
"Iyaa bu guru!" Kata Murid-murid serempak.
***** (Dirumah)
"Ma... Mirza loh  mau pindah" Kataku memberitahu.
"Loh kenapa?" Tanya mama kepadaku.
"Nggk tahu" Kataku.
"Ya sudah, jngn dipikirin!" Kata mamaku menghibur.
"Okee.. !" kataku.
***** (Dikamar)
"Hmm.... kenapa mirza pindah? aku nggk punya sahat lagi nanti!"batinku dalam hati.
"Hm... apa aku perlu buat sepucuk surat?" Kataku sambil merobek kertas.
Dan akhrinya aku membuat sepucuk surat. Surat itu berisi :
Mirza, kamu jangan pindah. Kalau kamu pindah aku sudah tidak punya sahabat. Kalau tiada hari tanpa sahabat. Aku bakal menyendiri lagi. Jangan pindah! Pliss!!  Jangan lupakan aku, jangan buang surat ini ya.! I Love My Friends!
Dari sahabat tercintamu :
Angel.

Surat itu aku bentuk seperti kapal. Nanti aku luncurkan disungai sebelah.
***** (Ruang tamu)
"Ma... Aku main yaa..!" Kataku memelas.
"Hm.... kemana?" Kata mamaku sambil menerusin membaca.
"Ke sungai sebelah tu! sebentar kok!" kataku.
"Boleh!" kata mamaku.
***** (Disungai)
"Mir.. moga-mogahan kamu menerima surat ini!" Batinku meluncurkan surat itu sambil meneteskan air mata.
"I love My Friends! Moga-mogahan aku mendapat shaabt baru lagi!" kataku meneteskan air mata.
***** (Pagi, Disekolah)
"Assalaamu'alaikum" Kataku lesu.
"Wa'alaikum salam." Kata Fitri
"Tumben lesu?" Kata Putri.
"Ndak papa!" Kataku lesu.
**** (Pelajaran)
"anak-anak, tau nggk mirza kenapa nggk masuk?" Tanya bu guru.
"Nggk" kata murid-murid srempak.
"Bu... Mirza pindah!" katamu membisik kepada bu guru.
Tiba-tiba ada seseorang masuk kedalam kelasku.
"Mirr..!" Kataku.
"Km kenapa ndk pakai seragam?" tanya Fitri.
"Aku mau pindah!!" Kata Mirza meneteskan air mata.
Akhirnya semuanya berpelukan dan menetaskan air mata.
"Ini akhir persahabatan bersamaan kita Flower Deer" kataku.
"Iyaa Bravery!" Kata Mirza.
"Mohon maaf kalau ada salah!" Kata Mirza meminta maaf
"Dadaa!!" Kata semuanya serempak.
Itu lah akhir kebersamaan kita bersama sahabat sejati.
Go Add Facebooknya! Cantika Putri Romadhona

~  SAHABAT YANG TIADA
Penulis :
Savira Narita Rachman
"Good Bye Ro"Ucap Meycila (meisila)
"Good Bye to Me"Ucapku
Namaku Rossana Aliyah. Biasa dipanggil Rossana or Ro. Tapi panggil saja aku Ro. Ini sahabatku, namanya Almeya Meycilia, Dipanggil Meycila. Ia kelas 6C. Jika kami berpisah aku selalu pura2 masuk kelas 6A. Ia tidak tau bahwa aku adalah teman yang tidak bisa dilihat orang lain kecuali dia. Ya, aku sudah tiada 2 tahun lalu
_______
"Eh Ro? bolehkah aku mengunjungi rumahmu?"Tanya Meycila tiba-tiba yang membuatku tersedak
"Uhuk Uhuk"Batukku
"Kamu kenapa?"Tanya Meycila, lagi
"Gapapa kok. Jangan ya Mey. Kapan2 saja"Ucapku sedikit gugup
'waduh Mey. Kamu bikin aku kaget aja'gumamku dalam hati
"Ayo aku sudah selesai!"Ajak Meycila dan menarik tanganku"
_________
"Bye Mey"Ucapku lalu
"Bye"Ucap Meycila lalu memasuki kelasnya
______
Kini aku sudah jarang bertemu Meycila. Aku hanya melihatnya dari langit saja. Ku lihat ia sedang memasuki kelas 6A. Ia sedang bertanya kepada anak2 disana
"Hei Ro mana?"Tanya Meycila
"Ro? Dia siapa?" Tanya Kiki dan Aldo
"Hah mereka tidak tau Ro?"Gumamnya kecil
Aku menyelipkan kertas di kantongnya tadi. Tapi ia tidak tahu. Sekarng ia baru sadar ada kertas dikantongnya. Isinyaaa
Meycila sahabatku. Pasti kau sibuk mencariku. Maaf sekali, kita berbeda alam. Saat kita bertemu itu pada saat musim hujan. Sebenarnya kita bisa bertemu lagi. Tapi maaf sekali. Sekarang tidak bisa. Sebenarnya aku adalah SAHABAT TIADA mu. Kau bisa menemuiku dimimpimu
Dari:Ro
"Sahabat Yang Tiada"Gumamnya kecil, lagi.
Go Add Facebooknya! Savira Narita Rachman

~ Happy Readiing! Itulah cerpen persahabatan karya anak bangsa.
 Semoga suka. Maaf kalau klau jelek, gak nyambung.
Saya Cantika perwakilan dari Refanti , Damar dan Savira mohon maaf jika ada kesalahan.
~Cantika Putri Romadhona